RSS

Resume Buku Filsafat Pendidikan Islami

04 Sep

R e s u m e    b u k u

Filsafat Pendidikan Islami

Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu dalam Memanusiakan Manusia

Nama Mahasiswa      : Mulyadi

Dosen Pengasuh       : Dr. Syukri Hamzah

Mata Kuliah               : Filsafat Pendidikan

PROGRAM MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2010

PENGANTAR PERESUME

Buku Filsafat Pendidikan Islam yang ditulis oleh Prof. Ahmad Tafsir membahas pandangan filsafat dalam dunia pendidikan Islami. Namun demikian, bukan berarti penulis hanya menukil pandangan filsafat dari tokoh-tokoh Islam. Untuk memperkuat tulisannya, penulis tetap memandang filsafat dari semua sudut pandang tokoh. Baik tokoh klasik maupun modern. Baik tokoh Barat maupun tokoh dunia Islam.

Dalam bukunya, Penulis mengakui bahwa buku tersebut tidak ditulis berdasar urutan pembahasan layaknya sebuah buku filsafat. Tetapi ditulis berdasarkan urutan alur berfikir terhadap cara memandang persoalan pendidikan melalui pendekatan deduktif-induktif. Dimulai dari pembahasan tentang hakikat manusia baru kemudian membahas hakekat pendidikan dilanjutkan dengan beberapa kritik terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia dilihat dari sudut pandang filsafat. Peresume akan meresume buku ini berdasarkan urutan bab. Oleh karenanya, perlu kiranya diketahui bahwa buku Filsafat Pendidikan Islam ini tersusun dari 10 bab.

Bab 1     Pendahuluan

Bab 2     Hakikat Manusia

Bab 3     Hakekat Pendidikan

Bab 4     Dasar Pandidikan

Bab 5     Tujuan Pendidikan

Bab 6     Kurikulum Pendidikan

Bab 7     Peserta Didik

Bab 8     Lembaga Pendidikan

Bab 9     Proses Pendidikan

Bab 10   Pengembangan Pendidikan

Dari urutan bab di atas, terlihat bahwa penulis menyusun buku ini seperti sebuah bunga rampai tulisan. Dan sejatinya memang diakui oleh penulis bahwa buku ini merupakan kumpulan makalah-makalah yang telah beliau sampaikan untuk bahan perkuliahan selama beliau berkecimpung sebagai doses filsafat. Namun demikian tulisan ini justru memiliki kekuatan sendiri dalam memandang persoalan pendidikan di Indonesia dan sangat pantas untuk dibaca.

Semoga resume ini dapat memberikan cakrawala berfikir yang baru dalam memandang pendidikan sebagai sebuah proses yang semestinya penuh dengan semangat perubahan. Bahwasanya pendidikan – mengutip dari istilah dalam buku ini – sebuah usaha untuk menolong manusia untuk memanusiakan dirinya.

Peresume menyadari tulisan ini masih sangat jauh dari baik, maka kritik dan saran sangat diharapkan agar pemahaman filsafat pendidikan dapat lebih ditingkatkan serta sebagai praktisi pendidikan kita lebih menjiwai pendidikan.

Mukomuko,     Mei 2010

Peresume,

Mulyadi

Bab 1

Pendahuluan

Pada bab 1 penulis memberikan pandangan tentang perbedaan antara pengetahuan sain dengan pengetahuan filsafat. Penulis merangkum pendapatnya tentang perbedaan keduanya dalam matrik berikut.

Pengetahuan Paradigma Obyek Metode Kriteria
Sain Sain (ilmiah) Empirik Sain (ilmiah) Rasional – empirik
Filsafat Rasional Abstrak – rasional Rasional Rasional

Sebenarnya ada tiga macam pengetahuan yaitu pengetahuan sain, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Ilmu mistik (mystical knowledge) mempunyai obyek suprarasional dan paradigmnya suprarasional. Namun ilmu mistik tidak terlalu terkait dengan pendidikan sehingga penulis tidak begitu mambahasnya.

Bab 2

Hakekat Manusia

Karena pendidikan adalah usaha untuk membantu manusia untuk memanusiakan dirinya, maka bab dua  ini membahas tentang hakekat manusia. Ada tiga sudut pandang yang digunakan; (1) manusia menurut manusia, (2) manusia menurut Tuhan.

Manusia Menurut Manusia

Socrates: manuisa adalah sentral segalanya. Dia akan mengatur dirinya dan alam dengan peraturan yang dia buat sendiri.

Plato (murid Socrates): manusia perlu mengetahui siapa dirinya sebelum mengetahui yang ada di luar dirinya. Dan untuk mengetahui sesuatu itu, manusia perlu bertanya. Untuk itu dia perlu bantuan orang lain untuk menjawab pelbagai pertanyaannya. Manusia terdiri dari jiwa (ada sebelum kelahiran) dan tubuh (fisik). Jiwa akan abadi sedangkan tubuh akan musnah. Jiwa manusia terdiri dari 3 elemen; kuda putih (roh), kuda hitam (nafsu), dan kusir (rasio). Kuda hitam dan putih secara bersama menarik kereta. Rasio bertugas mengendalikan kereta. Pendidikan bertugas membantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut.

Rene Descartes (1596-1650): ciri rasional pada manusia adalah adanya kebebasan memilih dalam bertingkah laku. Pada binatang kebebasan itu tidak ada. Maka berfikir itu sangat sentral pada manusia.

Immanuel Kant (1724-1804): manusia itu adalah makhluk rasional yang bertindak berdasarkan alasan moral yang bukan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Jadi ciri manusia adalah berfikir baru bertindak. Pada binatang itu tidak terjadi.

Manusia Menurut Tuhan

Penjelasan terbaik tentang siapa manusia itu berasal dari pencipta manusia. Dan karena Al-Quran adalah kitab yang masih asli dari Tuhan, maka dari sanalah kita mengetahui apa yang Tuhan katakan tentang manusia.

Menurut Tuhan manusia adalah diciptakan oleh Tuhan. Al-Quran menyebutkan bahwa manusia memiliki unsur jasman, maka perlu makan dan minum (QS 7: 31). Juga memiliki unsur akal, dan ruh.  Menurut Al Syaibani, jasmani, akal, dan ruhani membangun manusia laksana segitiga sama sisi. Ketiganya sama pentingnya untuk dikembangkan.

BAB 3

Hakekat Pendidikan

Arti Pendidikan

Orang Yunani (600 SM) telah mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha mambantu manusia menjadi manusia. Pengertian ini sesungguhnya masih sangat relevan hingga saat ini. Juga sangat relevan dengan konsep Al-Quran (Pent).

Pendidikan: Masalah yang Tidak Pernah Selesai

Kapanpun dan di Negara manapun baik negara berkembang maupun negara yang sudah maju sekalipun, pendidikan selalu menjadi topik pembicaraan yang tak pernah selesai. Selalu ada usaha untuk memperbaikinya. Ada yang berhasil tetapi tidak sedikit yang gagal. Hal ini sesuai dengan sifat manusia yang tidak pernah puas dan cenderung menyukai hal baru (J.P. Sartri).

BAB 4

DASAR PENDIDIKAN

Dasar pendidikan kita seharusnya tidak keluar dari dasar negara Pancasila. Sayangnya Pancasila belum diturunkan 100% ke dalam UU Sisdiknas 2003 yang kita pakai sekarang.

Rasionalisme

Rasionalisme berpegang pada prinsip bahwa akal adalah pencari kebenaran. Dan kebenaran diukur dengan akal. Kebenaran harus dimiliki agar derajat kemanusiaan semakin tinggi. Manusia yang sebenarnya adalah yang derajat kemanusiaannya tinggi.

Memperkuat dasar bagi nilai-nilai

Terdapat 3 nilai dasar dalam hidup: benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah.

Seiap orang meninginkan nilai yang diyakininya dapat lestari. Munculnya budaya yang beragam di masyarakat merupakan bukti keinginan itu. Jadi budaya tidak lain adalah bukti nyata adanya nilai. Nilai atau budaya mana yang ingin dikembangkan oleh pendidikan kita? Setidaknya ada dua aliran budaya yang tengah berebut pengaruh di dunia pendidikan kita. Pertama budaya yang berdasar pada nilai falsafah bangsa Pancasila yang core nilainya Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua budaya Barat. Budaya Barat yang falsafahnya dibangun dari Humanisme dan Realisme yang melahirkan Positivisme yang menghasilkan metode ilmiah dan metode riset. Seluruh produk metode riset digunakan untuk mengatur kehidupan manusia maupun mengatur alam. Inti dari budaya Barat adalah budaya mendewakan akal. Apakah budaya barat memang pilihan, ataukan Pancasila? Tidak jarang sebagian para pendidik secara tidak sadar talah memuja Barat. Padahal sesungguhnya Barat sendiri mengakui bahwa budaya mereka adalah budaya yang tidak memanusiakan manusia karena manusia yang unik telah demikian disederhanakan. Manusia dianggap (diperlakukan) seperti barang-barang produksi mesin.

BAB V

TUJUAN PENDIDIKAN

Tujuan pendidikan merupakan wujud dari pandangan hidup (why of life) dari orang yang merumuskannya. Karena rumusan pendidikan dibuat oleh para manusia (salah satunya wakil rakyat, DPR) maka pandangan hidup mereka turut mewarnai bahkan tidak jarang terjadi perdebatan diantara mereka. Asalkan rumusannya tidak terlalu jauh dari Pancasila dan tidak mengancam keutuhan bangsa, masih bisa kita dukung.

Lulusan yang diharapkan seharusnya:

-          Badan sehat, sehinga menjadi manusia produktif

-          Cerdas, sehingga dapat menyelesaikan persoalan dengan cepat dan tepat

-          Beriman kuat, karena tidak semua masalah bersifat rasional (dapat diselesaikan dengan kecerdasan)

Ketiga karakter tersebut dapat diuraikan lagi menjadi:

-          Lulusan harus disiplin

-          Jujur

-          Kreatif

-          Ulet

-          Berdaya saing

-          Dapat hidup berdampingan (living together)

-          Demokratis

-          Menghargai waktu

-          Mampu mengendalikan diri

Masyarakat hasil pendidikan

Secara umum tujuan pendidikan adalah manusia yang baik yang akan mebentuk masyarakat yang baik. Normatif memang. Lalu apa ciri normarifnya? Masyarakat yang baik sering disebut sebagai masyarakat madani dengan tiga ciri utama:

-          adanya hukum yang manusiawi,

-          adanya masyarakat yang taat hokum dan kesamaan dimuka hukum, dan

-          adanya penegak hukum yang berwibawa.

BAB 6

KURIKULUM PENDIDIKAN

Apakah kurikulum itu? Kurikulum sering diartikan sebagai program. Istilah ini sangat popular di dunia pendidikan. Biasanya berisi daftar mata pelajaran. Tetapi sebenarnya tidak harus demikian. Kurikulum dapar saja berisi daftar kegiatan misalnya kegiatan mengelas, berlari, menulis, dan seterusnya. Yang tidak kalah penting di sini adalah paradigma dan pendekatan yang akan digunakan guna mencapai tujuan kurikulum. Sebagaimana pembagian jenis ilmu, maka paradigma dalam mengembangkan ilmu juga harus tepat. Ilmu pengetahuan sain dapat dicapai dengan metode ilmiah – empiris, ilmu yang bersifat filsafat maka paradigmanya adalah rasional (tanpa empiris), demikian juga ilmu mistik memiliki paradimnanya sendiri (suprarasional dan metarasional paradigma). Jangan pernah memberikan pengetahuan tetapi menggunakan paradigma yang tidak tepat. Pendidikan Barat contohnya, telah melakukan kesalahan fatal ketikan mengkaji ilmu agama dengan paradigma  sain – empirik. Tentu saja kebanyakan mereka akan gagal.

BAB 7

PESERTA DIDIK

Murid

Ada tiga istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan peserta didik yakni murid, anak didik, dan peserta didik. Penulis menanalisa alasan masing-masing penggunaan istilah dan merekomendasikan untuk (tetap) menggunakan istilah ‘murid’. (p. 164)

Murid Mengandung makna kesungguhan belajar, keprihatinan guru, pembelajaran lebih barokah dan manusiawi. Seorang murid mestilah mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi keterkaitan dengan kesibukan duniawiyah, dan tidak sombong terhadap orang-orang berilmu.
Anak didik Diharapkan guru mencintainya seperti mencintai anak sendiri.
Peserta didik Istilah paling mutakhir yang sangat mementingkan ‘proses’ belajar. Peran guru semakin dikurangi hingga menjadi 25% saja atau jika mungkin 0%

Pendidik

Siapakah pendidik sebenarnya? Orang tua adalah pendidik paling utama (meskipun mereka sering kecewa dengan pendidikan, aneh: pent). Kepolisian, LSM, parpol, termasuk (juga) guru adalah sebagai pendidik pada batas-batas wewenangannya masing-masing. Bagaimana peran mereka selama ini di masyarakat? Silakan Anda nilai sendiri.

BAB 8

LEMBAGA PENDIDIKAN

Secara konseptual lembaga pendidikan (sekolah) dibentuk untuk melakukan proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. Tiga tujuan setidaknya ingin dicapai melalui sekolah yakni moralitas (akhlak), civic (cinta tanah air), dan berpengatahuan.

Pendidikan Untuk Masa Depan dan Kecenderungan Abd ke-21

Terjadinya globalisasi dan pasar bebas menuntut tambahan kemampuan lulusan sebuah lembaga pendidikan. Dunia yang tanpa batas (borderless word), pasar bebas (WTO-word trade organization) telah diciptakan, dan tatanan dunia baru telah lahir.

Namun demikian, dunia pendidikan kita masih menghadapi tiga masalah besar; sistem yang terlalu kaku, budaya korup (peringkat 2 dunia), dan belum berorientasi pada pemberdayaan dan mengantisipasi abad 21 (daya saing no 40, 1998).

Model Sekolah abad 21 haruslah menekankan pada kompetensi berikut:

  1. Pendidikan agama sebagai landasan terbentuknya karakter dan kepribadian.
  2. Bahasa Inggris aktif.
  3. Pendidikan sains.
  4. Pendidikan keterampilan.

BAB 9

PROSES PENDIDIKAN

Satu hal yang penting untuk diperhatikan yang menjadi topik dalam pembahasan ranah filsafat adalah bahwasanya sebuah proses pendidikan mestilah mambangun sebuah internalisasi content pendidikan. Baik itu terkait dengan internalisasi pengetahuan terlebih lagi internalisasi nilai. Ada rambu-rambu penting yang perlu diperhatikan agar sebuah proses sukses melakukan internalisasi.

Ada tiga tujuan pembelajaran:

  1. Tahu (knowing).
  2. Mampu melaksanakan apa yang diketahui (doing).
  3. Menjadi apa yang telah dilaksanakan itu (being).

Tiga hal di atas berlaku untuk semua disiplin ilmu baik ilmu yang tidak bersifat nilai, apalagi yang bersifat nilai. Untuk itu ada dua langkah penting yang perlu dipersiapkan dan didesain oleh sebuah proses pendidikan:

  1. Keteladanan dan
  2. Pembiasaan.

Pada pendidikan nilai, khususnya agama (Islam) – juga agama lain (mungkin, pent) – dalam  pelaksanaan keteladanan dan pembiasaan, mestilah ada action nyata. Untuk itu perlu juga diketahui dan diperhatikan tahap-tahap berikut khususnya ketika menginternalisasi praktik ibadah.

Menurut Al-Ghazali,ibadah itu melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Tahap Ilmu

Beribadah harus dengan ilmu sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

  1. Tahap Taubat

Dengan taubat maka dosa akan diampuni, akan mendapat pertolongan, dan ibadah akan diterima.

  1. Tahap Godaan

Godaan dapat berupa dunia, makhluk, syetan, hawa nafsu.

  1. Tahap Penghalang

Penghalang dapat berupa rezeki dan tuntutan hawa nafsu, kurang ridho, dan musibah.

  1. Tahap Pendorong

Khauf dan raja’.

  1. Tahap Perusak

Riya’ dan ujub.

  1. Tahap Puji dan Syukur

Jika semua tahap 1 – 6 dapat dilalui dengan baik, maka seorang akan dapat merasakan nimatnya beribadah. Maka pantaslah ia bersyukur dengan memuji kebesaran Allah.

Satu lagi hal penting yang perlu dicamkan dan dipraktikkan dalam proses pendidikan yaitu doa. Doa adalah kekuatan yang efektif. Doa yang paling efektif adalah yang dilakukan oleh orang lain untuk saudaranya.

Biaya proses pendidikan

Sumber daya terbesar yang harus dikeluarkan dalam  pendidikan sesungguhnya adalah pada proses. Di Indonesia, pendidikan Islam khususnya, seringkali menjadikan biaya yang besar sebagai alibi keterbalakangan. Tetapi penulis kurang sependapat jika dikatakan kita ini miskin. Yang benar adalah kita tidak mampu mengelola harta, kurang bisa membuat skala prioritas dalam beribadah. Ambil contoh, misalnya ibadah haji. 200.000 orang setiap tahunnya menunaikan haji ke Baitullah. 4% diantaranya adalah orang yang sudah pernah berhaji. Jika 4 persen (8.000 orang) ini mau menyisihkan uangnya untuk invertasi pendidikan, maka akan ada 8.000 orang x Rp30.000.000 = 240 milyar. Bagaimana jika 10 tahun uang itu dideposito, maka akan bertambah 200%. Belum lagi deposito tahun ke-2, ke-3, dst. Dan masih ada lagi potensi lain; zakat, infaq, dll. Sayangnya, ummat Islam – meminjam istilah Sutan Takdir Alisyahbana – masih sangat menganut budaya ekspresif (rasa) dari pada progresif.

BAB 10

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

Sistem Pendidikan Nasional: paradigm dan model kurikulum

Pancasila adalah dasar Negara dan harus mampu diturunkan ke dalam UUD. Selanjutnya harus diturunkan secara konsisten ke dalam semua UU, termasuk UU Sisdiknas. Jika dilihat dari sisi filsafat, sesungguhnya Pancasila memiliki 4 ide (bukan 5 ide), yaitu; (1) Kemanusiaan yang berdasarkan keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Persatuan yang berdasarkan keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, (3) Kerakyatan yang berdasarkan keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan (4) Keadilan sosial yang berdasarkan keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

UU Sisdiknas kita haruslah menjadi salah satu wujud dari empat ide tersebut. UU Sisdiknas yang baru no. 20 tahun 2003, setidaknya telah mencoba menerjemahkan ide tersbut. Pada UU tersebut tertuang tujuan pendidikan yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, … (BAB II pasal 3). Persoalanya adalah kalimat “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” belum amat jelas maksudnya. Ini menjadi pangkal persoalan untuk kemudian terjadi inkonsistensi.  Jikapun ini dianggap telah konsisten, tetapi pada tataran teknis inkonsistensi terulang lagi. Tidak adanya spirit “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” begitu terasa dalam permen-permen, maupun PP tentang pendidikan kita.

Untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan kita, diusulkan agar ditegaskan bahwa “keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah core (inti) sistem pendidikan kita” dan sekaligus dijadikan sebagai paradigma pendidikan kita. Model kurikulum yang dimaksud kira-kira dapat digambarkan sebagai berikut.

KESIMPULAN

Untuk memperbaiki pendidikan kita ada dua langkah penting yang harus segera diambil:

Pertama, mengubah paradigma dengan mengutamakan pendidikan ahlak. Ini berarti pendidikan agama. Jadikan agama sebagai core sistem pendidikan.

Kedua, mendesain model kurikulum. Model kurikulum harus didesain berdasakan paradigm, dan harus memperhatikan fitrah manusia dan perkembangan dunia modern. Ini berarti harus mengandung muatan lokal, nasional, dan global.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on 4 September 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: